0
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu pembentukan dan pengembangan kepribadian manusia secara menyeluruh, yakni pembentukan dan pengembangan potensi ilmiah yang ada pada diri manusia secara menyeluruh. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan harus menekankan pada ilmu pengetahuan (kognitif) juga diarahkan pada pengembangan kecerdasan untuk dapat belajar cepat dengan terampil dalam melaksanakan sesuatu (psikomotor) serta diarahkan pada pengembangan sikap mental dan kepribadian untuk terjun di masyarakat (afektif).
Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, pemerintah telah mengatur tentang tujuan Dan fungsi daripada pendidikan Nasional yang berbunyi sebagai berikut :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membent uk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab”.1
Sudah jelas bagi kita bahwa tujuan pendidikan di atas mengandung pengertian bahwa setiap manusia Indonesia diharapkan mampu meningkatkan
1 UU RI No. 20 tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung; Nuansa Aulia ), 102
kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki.
Pengetahuan, keterampilan serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa, yang berarti pendidikan harus terdiri atas tiga aspek tujuan pendidikan yaitu kognitif, psikomotor dan afektif.
Kita telah mengetahui ada dua lembaga pendidikan yang dapat dicapai oleh seorang anak didik untuk tercapainya pembentukan dan pengembangan potensi pada diri anak yaitu pendidikan formal dam informal.
Pendidikan informal atau bisa disebut juga dengan bentuk program yang tidak jelas dan resmi, misalnya jika kita perhatikan pendidikan dalam keluarga, maka tidak kita jumpai adanya kurikulum yang tertulis dan jam mata pelajaran secara resmi dalam bentuk tertentu dan jelas.
Pendidikan formal atau dapat disebut juga dengan bentuk program yang jelas dan resmi, seperti lembaga sekolah bertugas mengembangkan pribadi anak secara menyeluruh. Pendidikan formal diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan potensi peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut peserta didik harus menempuh dua jenjang pendidikan, yang meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Pendidikan dasar adalah tingkat pendidikan yang pada hakikatnya merupakan penerus pendidikan yang pernah diterima oleh anak dalam keluarga, karena orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama di keluarga bagi anak-anaknya. Tugas pendidikan pada usia ini, harus memperhatikan keseluruhan perkembangan anak seperti fisik, intelektual, emosi sosial dan susila.
Perkembangan pada usia ini, sebagai sintesis sifat kombinasi dalam kepribadian anak. Perilaku sifat yang terdapat dalam faktor-faktor, fisik, emosi, dengan sebelumnya. Oleh karena itu, pendidikan menengah pertama (SLTP/MTs) bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah dasar yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kehidupan pribadi anggota masyarakat warga Negara sesuai dengan tingkat perkembangan serta mempersiapkan untuk mengikuti pendidikan menengah atas.
Adapun pendidikan menengah/madrasah Aliyah bertujuan :
1. Mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi.
2. Menyiapkan siswa agar mampu mengembangkan diri sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian yang dijiwai ajaran Islam.
3. Menyiapkan siswa agar mampu menjadi anggota masyarakat dalam mengadakan
hubungan Timbal balik dengan lingkungan Sosial, budaya dan alam sekitarnya dijiwai
suasana keagamaan.
Dalam menghadapi fenomena yang sering terjadi di sekolah, anak-anak yang nakal di sekolah hanya dianggap sebagai pengisi waktu saja daripada kesepian di rumah tidak ada teman, anak-anak yang berpendapat demikian akan menjadi penghalang dalam kemajuan belajar.
Untuk mengatasi kenakalan anak-anak di sekolah adalah menjadi tugas guru atau pendidik, pendidik dituntut untuk dapat mencegah dan berupaya untuk menumbuhkan kedisiplinan belajar pada diri anak, agar anak punya tingkat disiplin belajar yang tinggi dalam sekolah. Adapun upaya pemecahanya antara lain dengan diterapkanya tata tertib sekolah dan kewajiban-kewajiban lain yang dapat meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Dalam menghadapi anak- anak didik yang tidak mentaati tata tertib dan kewajiban serta tugas yang di berikan, maka mereka dapat diberi sangsi atau hukuman. Hukuman di sekolah di buat bukan sebagai pembalasan. Tetapi dibuat untuk memperbaiki perilaku anak- anak lain dari kesalahan yang sama. Anak-anak yang sembrono dengan peraturan dalam ruangan kelas harus disingkirkan dari anak-anak lain, karena mereka tidak menghormati hak-hak orang banyak serta kemaslahatan mereka, dengan demikian melindungi anak-anak dan sifat jahatnya.
Suatu hukuman fisik belum tentu menjadi alat yang mujarab untuk membasmi penyakit tapi mungkin akan sebaliknya, menyebabkan penyakit itu menjadi semakin besar dan berlanjutnya kesalahan. Hukuman moral dapat memberikan pengaruh besar dalam jiwa anak-anak yang mana jauh lebih efektif dari hukuman fisik, misalnya seorang siswa yang terpilih untuk menjadi ketua kelas, kemudian dia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan peraturan sekolahnya, ia diberhentikan dan dipilih pula anak lain yang menggantikannya. Bentuk hukuman moral yang semacam ini mempunyai pengaruh psikologis yang cukup besar dan ia akan berupaya bagaimana mengembalikan kepercayaan dari pihak teman-temanya.
Hukuman fisik yang dilakukan seringkali berupa pemukulan, menjewer telinga ataupun tindakan-tindakan yang serupa itu. Sebuah lembaga yang menerapkan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani yang diadaptasi dari pendidikan jasmani, misalnya push-up, scoot-jump, sit-up dan lari yang berguna juga untuk kesehatan jasmani, kesehatan fisik dan mental. Mungkin lebih efektif.
Pendidikan jasmani itu adalah pendidikan dari jasmani yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan. Pendidikan jasmani yang diadaptasi sebagai bimbingan jasmani dalam hukuman, berbeda dengan olahraga. Kata olahraga sepadan dengan kata “sport” dalam bahasa Inggris dapat berarti aktivitas yang dikerjakan untuk mendapatkan kesenangan atau yang berarti rekreasi. Olahraga bercirikan permainan dan prestasi, ada tantangan yang dihadapi dan dilaksanakan secara sportif.
Olahraga menurut Abdul Ghofur adalah bentuk-bentuk kegiatan jasmani yang terdapat dalam permainan, perlombaan dan kegiatan jasmani yang intensif dalam rangka memperoleh rekreasi, kemenangan dan prestasi optimal.
Bila hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani bersifat perbaikan, atau tindakan mendidik, maka hukuman dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Hukuman tidak mungkin dihilangkan dalam pendidikan, karena ini merupakan alat pendidikan. Ketika hukuman yang berupa pukulan dilarang karena masuk pada tindakan kekerasan, maka ini bisa menjadi solusi, yakni hukuman fisik yang berupa bimbingan jasmani yang bertujuan memberikan kesehatan atau kebugaran tubuh yakni hukuman yang dapat memberikan manfaat kepada anak didik.
Alat pendidikan adalah suatu tindakan, situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan pendidikan.4
Pembagian macam-macam alat pendidikan dapat ditinjau dari segi
wujudnya, yaitu berupa :
1. Perbuatan pendidikan (immateriil) mencakup nasehat, teladan, larangan, perintah,
pujian, teguran, ancaman, hukuman.
2. Benda-benda sebagai alat bantu (materiil) mencakup meja-kursi belajar, papan tulis,
penghapus, kapur tulis, buku, peta dan lain-lain.5
Oleh karena itu, alat pendidikan harus dibedakan dari macam-macam segi antara lain :
1. Alat pendidikan positif dan negatif

a. Positif jika ditujukan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik, misalnya menjaga.
Contoh yang baik adalah pembiasaan, perintah, pujian dan pengajaran.
b. Negatif jika tujuannya supaya anak didik tidak mengerjakan sesuatu yang buruk, misalnya
larangan, celaan, ancaman dan hukuman.
2. Alat pendidikan preventif dan korektif

a. Preventif, jika maksudnya mencegah anak sebelum bertindak sesuatu yang tidak baik,
misalnya pembiasaan perintah, pujian dan pengajaran.
b. Korektif, jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau
berbuat sesuatu yang buruk. Misalnya; celaan, ancaman dan hukuman

3. Alat pendidikan untuk menyenangkan dan tidak menyenangkan
a. Yang menyenangkan yaitu yang menimbulkan perasaan senang pada anak-anak,
misalnya ganjaran atau pujian
b. Yang tidak menyenangkan maksudnya yang menimbulkan perasaan tidak senang pada
anak-anak seperti hukuman dan celaan.
Berdasarkan realita sekarang banyak aparat sekolah mengeluh, lantaran anak didiknya kurang disiplin, baik di dalam atau di luar sekolah. Sehingga membuat kacau jalannya dan menghambat prosesi belajar mengajar di sekolah. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada sekolah yang memiliki tingkat disiplin yang tinggi.
Walaupun telah melaksanakan hukuman bagi anak-anak yang melakukan pelanggaran masih sering ditemukan kekacauan dan pelanggaran. Terlepas dari faktor-faktor tersebut, penulis ingin meneliti dari sisi pengaruh hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani di MA AL-IBROHIMY GALIS BANGKALAN terhadap kedisiplinan belajar siswa
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani di MA AL-
IBROHIMY GALIS BANGKALAN
2. Bagaimana kondisi kedisiplinan belajar siswa di MA AL-IBROHIMY GALIS
BANGKALAN?
3. Adakah pengaruh hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan
belajar siswa di MA AL-IBROHIMY GALIS BANGKALAN
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui pelaksanaan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani di MA
AL-IBROHIMY GALIS BANGKALAN.
b. Untuk mengetahui kondisi kedisiplinan belajar siswa MA AL-IBROHIMY kota
GALIS
c. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan hukuman dalam bentuk bimbingan
jasmani dengan kedisiplinan belajar siswa.

2. Kegunaan Penelitian

a. Untuk mengembangkan pengetahuan dan memperluas cakrawala berpikir penulis
selama menempuh pendidikan yang berkaitan dengan masalah yang selalu timbul
dalam lingkup pendidikan.
b. Bagi guru ataupun lembaga pendidikan sebagai kontribusi dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
c. Untuk bahan wacana bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah khususnya, umumnya bagi
seluruh mahasiswa.
d. Bagi penulis sendiri sebagai persyaratan akademis untuk memperoleh gelar S1 dalam
Fakultas Tarbiyah.




D. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban atau kesimpulan sementara terhadap masalah yang diteliti dan harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian. Hipotesis merupakan dasar untuk membuat kesimpulan penelitian yang berbentuk dalil dan generalisasi.
Ada dua hipotesis yang digunakan dalam penelitian
1. Hipotesis Kerja atau yang disebut dengan hipotesis alternative di singkat Ha.
Hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara variable X dan variable Y .
2. Hipotesis Nol disingkat Ho, hipotesis ini menyatakan tidak adanya hubungan variable X
dan Y.
Berdasarkan teori yang di kemukakan di atas, maka penulis memberikan dua hipotesis ini:
1. Hipotesis kerja (Ha) yang berarti ada atau terdapat pengaruh hukuman dalam bentuk
bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan belajar siswa.
2. Hipotesis Nol (Ho) yang berarti tidak ada atau tidak terdapat pengaruh
hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan belajar siswa

E. Definisi Operasional

Judul SKRIPSI ini adalah “PENGARUH HUKUMAN DALAM BENTUK BIMBINGAN JASMANI TERHADAP KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA DI MA ALIBROHIMY GALIS” untuk menjaga agar tidak terjadi salah pengertian di dalam memahami judul skripsi ini maka kiranya penulis memberikan penjelasan dan pengertian beberapa istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut, yakni.
1. pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda, dan sebagainya).7 Yang dimaksud pengaruh dalam skripsi ini adalah daya yang timbul dari bimbingan jasmani sebagai hukuman yang diberikan terhadap anak didik yang melanggar peraturan.
2. Hukuman diartikan sebagai suatu tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan penderitaan pada anak,sehingga anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.Hukuman dalam skripsi ini adalah hukuman fisik yang berupa bimbingan jasmani yang diadaptasi dari pendidikan jasmani yaitu berupa scoot-jump, sit- up, push-up dan lari.
3. Bimbingan jasmani, jasmani adalah kata sifat dengan asal kata jasad yang berarti tubuh atau benda.9 Bimbingan adalah suatu proses dalam hubungan antar individu untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang.
Bimbingan jasmani dalam skripsi ini adalah bimbingan melalui sarana jasmani, dengan aktivitas-aktivitas jasmani atau aktifitas-aktifitas fisik, seperti scoot-jump, sit-up, push-up dan lari.
4. Kedisiplinan, kata dasarnya adalah “disiplin” mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Kedisiplinan yang dimaksud di sini adalah sikap patuh dan taat dari siswa kepada tata tertib sekolah seperti hadir di ruangan pada waktunya, tata pergaulan di sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan belajar di rumah, sehingga kegiatan belajar mengajar dalam berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan.
5. Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar yang dimaksud dalam skripsi ini adalah perubahan dalam tingkah laku atau penampilan menuju perilaku positif dengan rangkaian kegiatan seperti : menulis, membaca, mendengarkan, mengamati, dan lain-lain.
6. Siswa berarti murid, seseorang atau anak didik yang belajar di sekolah
Siswa yang dimaksud di sini adalah siswi kelas XI MA AL IBROHIMYkota Galis.
7. MA AL IBROHIMYkota Galis. , adalah sebuah lembaga pendidikan sekolah menengah atas yang terletak di Jl Raya Galis dan menjadi pusat penelitian skripsi ini.
Dengan penjelasan istilah di atas yang di maksud dengan judul “Pengaruh Hukuman dalam bentuk Bimbingan Jasmani Terhadap Peningkatan Kedisiplinan Belajar Siswa di MA AL IBROHIMYkota Galis.” adalah ingin mengetahui pelaksanaan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani seperti scoot-jump, push up, lari dan sit up, serta hubungan dengan kedisiplinan belajar siswa MA AL IBROHIMYkota Galis.
dan diharapkan dengan adanya hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani siswa tertib dalam belajar.

F. Batasan Masalah

1. Hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terbatas pada hukuman yang diadaptasi
dari pendidikan jasmani seperti scoot-jump, sit up, push up dan lari.
2. Kedisiplinan belajar terbatas pada hadir di ruang pada waktunya, tata pergaulan
dalam sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan belajar di rumah.
3. Anak didik yang diteliti terbatas pada siswa kelas XI di MA AL IBROHIMY kota
Galis

G. Alasan Memilih Judul

Dalam gambaran latar belakang masalah di atas ada beberapa alasan yang mendorong penulis untuk memilih permasalahan dalam skripsi ini, adapun alasan tersebut adalah :
1. Bimbingan jasmani ada karena adanya hukuman, tapi hukuman yang di berikan bukan pukulan, tendangan, atau hal-hal yang bersifat kekerasan Melainkan hukuman yang berbentuk bimbingan jasmani (gerak) yang juga bertujuan latihan jasmani untuk memperkuat urat daging, mempertinggi koordinasi dan menuju kepada kesehatan tubuh serta bertujuan untuk pembentukan watak seperti jujur, sportif, disiplin dan bertanggung jawab.
2. Kenyataan yang ada, banyak terdapat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah yang sudah melampaui batas. Walaupun hukuman sering dilaksanakan.
3. Untuk dapat membuat siswa jera, maka lembaga pendidikan dapat memberikan variasi hukuman agar siswa tidak mengulangi lagi kesalahannya.
4. Kedisiplinan belajar siswa baik dalam masuk sekolah, berpakaian, mentaati peraturan sekolah dan mengikuti aktivitas lainnya di sekolah memberi pengaruh terhadap proses belajar-mengajar dalam kelas, dan berpengaruh pada prestasi belajar yang diharapkan siswa maupun sekolah.
5. Penerapan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani di sekolah formal, di pandang perlu adanya penelitian, apakah tepat hukuman yang diterapkan kepada siswa sehingga dapat diketahui apakah itu dapat membantu meningkatkan kedisiplinan siswa dalam keberhasilan belajar-mengajar.




H. Metode Penelitian

1. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat non eksperimen (ekspos waktu). Penelitian non eksperimen adalah penelitian di mana data sudah ada (dalam arti tidak sengaja ditimbulkan), dan peneliti tinggal merekam. Adapun bentuk penelitiannya adalah penelitian survei. Penelitian survei merupakan penelitian dengan menanyakannya melalui angket atau interview supaya nantinya menggambarkan berbagai aspek dalam populasi.
Dalam mengadakan penelitian tidak lepas dari adanya jenis data yang akan dikumpulkan sebagai bahan kajian. Berangkat dari topik permasalahan skripsi ini maka data yang relevan sebagai bahan kajian ini adalah :
a. Data kualitatif, yaitu data yang tidak dapat diukur langsung atau data yang tak berbentuk angka-angka, yang termasuk data kualitatif dalam penelitian ini yaitu : Gambaran umum obyek penelitian, keadaan guru, siswa dan karyawan, keadaan sarana dan prasarana dan bentuk bimbingan jasmani serta tingkat kedisiplinan siswa.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang hanya dapat diukur secara langsung atau lebih tepatnya dapat dihitung, yang termasuk data kuantitatif dalam penelitian ini adalah : jumlah guru, siswa dan karyawan, jumlah sarana dan prasarana, banyaknya absensi.
2. Sumber data

Dilihat dari cara perolehannya sumber data dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Sumber data primer, yaitu data-data yang diperoleh dari pihak yang di teliti secara langsung. Dalam hal ini adalah pelaksana hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani dan siswa MA AL IBROHIMY kota GALIS. Dikatakan sumber data primer karena pelaksana hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani dan siswa-siswi MA AL IBROHIMY kota GALIS merupakan obyek penelitian
b. Sumber data sekunder, yaitu data yang diinformasikan, oleh pihak lain yang bukan sasaran penelitian, dalam hal ini adalah Kepala Sekolah dan personalia sekolah.
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Untuk memperoleh data yang pasti maka diperlukan adanya populasi yang diteliti, sebab tanpa adanya populasi, penelitian akan mengalami kesulitan dalam mengelola data yang masuk. Populasi adalah kelompok yang menarik peneliti, di mana kelompok tersebut oleh peneliti dijadikan sebagai obyek penelitian.
Sejalan dengan pokok permasalahan serta alasan pemilihan judul, maka peneliti secara sengaja mengambil populasi yaitu: siswa-siswi SMAN I kota Mojokerto, yang kami batasi khusus pada kelas XI MA ALIBROHIMY kota GALIS.
b. Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto, sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.
Sampel dalam penelitian dimaksudkan untuk memperkecil obyek penelitian, sebab pada kenyataannya dalam suatu penelitian kebanyakan peneliti tidak dapat secara langsung meneliti semua individu atau kelompok yang tercakup dalam populasi.
Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel 15% dari jumlah populasi yang ada, hal ini berdasarkan pendapat Dr. Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa : “Jika jumlah subyek penelitian lebih besar dari 100, dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih”.Maka dari 282 populasi siswa kelas XI peneliti mengambil 15% yakni 42 siswa sebagai sampel. Dengan perhitungan
282 x15%
282 x 15 42
100
Cara peneliti mengambil sampel ini dengan menggunakan teknik random sampling maksudnya peneliti mengambil sampel secara acak, pengambilan sampel secara random atau tanpa pandang bulu. Dalam random sampling semua individu dalam populasi mempunyai kesempatan
yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampe
4. Metode pengumpulan data

Setelah kita mengetahui sumber data maka, dalam penelitian ini untuk mendapatkan data dan mengumpulkan data, yaitu dengan cara :
a. Metode observasi

Metode observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung.
Berkaitan dengan metode ini data yang diperoleh oleh peneliti adalah :
a. Keadaan guru dan personalia di SMAN I kota Mojokerto
b. Keadaan siswa-siswi MA AL IBROHIMY
kota GALIS
c. Keadaan sarana dan prasarana MA AL IBROHIMY
kota GALIS



b. Metode interview
Yang dimaksud dengan metode interview atau wawancara adalah metode ilmiah dalam pengumpulan data dengan jalan berbicara atau berdialog langsung dengan obyek penelitian
Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A. wawancara sebagai alat pengumpul data, dengan jalan sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian.19
Berkaitan dengan metode ini data yang ingin diperoleh oleh peneliti adalah:
1) Alasan penggunaan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani
2) Bagaimana respon siswa tentang hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani.
c. Metode dokumentasi
Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Suharsimi Arikunto, bahwa metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau Variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen dan agenda.
d. Metode kuesioner/angket

Metode angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal diketahuinya.
Metode angket pada dasarnya merupakan cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar-daftar pertanyaan yang langsung diajukan kepada responden yang dapat memberikan informasi tentang permasalahan yang diteliti.
Metode ini peneliti gunakan untuk menggali data tentang :
1) Bimbingan jasmani (Variabel bebas/X)
2) Hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani
3) Kedisiplinan belajar siswa (Variabel terikat/Y)
5. Teknik analisis data

Proses analisis data merupakan salah satu usaha untuk menemukan jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan.
Analisis data merupakan upaya mencari kebenaran dari data-data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, angket dan dokumentasi, sehingga dari sini dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis data deskriptif dan analisis statistik.
a. Analisis deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.
Penelitian deskriptif berusaha mendeskripsikan atau menginterpretasi
apa yang ada, (bisa mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang). Data penelitian deskriptif biasanya dikumpulkan melalui survey angket, wawancara atau observasi.
Dalam skripsi ini analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menjawab rumusan masalah 1 dan 2 tentang bagaimana pelaksanaan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani dan kondisi kedisiplinan belajar siswa. Dan angket sebagai data pendukung.
b. Analisis statistik
Untuk mengetahui hubungan hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani dengan kedisiplinan belajar, penulis menggunakan analisis koefisien korelasi phi.
Teknik koefisien korelasi phi adalah salah satu teknik analisis korelasional yang dipergunakan apabila data yang dikorelasikan adalah data yang benar-benar dikotomik (terpisah atau dipisahkan secara tajam)
Maka di sini peneliti menggunakan rumus koefisien korelasi phi
(r? ), sebagai independent variabel adalah hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani sedangkan kedisiplinan belajar siswa sebagai dependent variabel. Untuk menghitung ada atau tidaknya korelasi antara dua variabel tersebut.
Koefisien korelasi phi dihitung dengan rumus :
r = ad bc
............24
(a b) (c
d ) (a
c) (b d )
X 1 2
Y
1 a b
2 c d
Keterangan :
r = koefisien korelasi phi a = X1 Y1
b = X2 Y1
c = X1 Y2 d = X2 Y2 keterangan :
X1 = Kolom pertama X2 = Kolom kedua Y1 = Baris pertama Y2 = Baris kedua
Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan dengan menguji
signifikan dari “r ” (koefisien korelasi phi) yang diperoleh, menggunakan uji 2tabel rumus 2.
2hit =
( Oi
Ei 0,5) 2
Ei
Keterangan:
Oi = frekuensi observasi
Ei = frekuensi harapan
0,5 = harga konstan
23
Keterangan:
Ei =X1 Y1
E2 =X1 Y2
E3 =X 2 Y1
E4 =X 2 Y2
Membandingkannya dengan besarnya “ 2tabel”, Dalam tabel kontingensi berukuran (2 x 2) karena dikotomi. Mereka hanya mempunyai db 1, sehingga diperoleh nilai 2tabel adalah 20,01; 1 = 6,635 dan taraf signifikan 2 0,05; 1 = 3,841. Dan selanjutnya akan diketahui diterima atau ditolaknya hipotesis.
Rumus tersebut digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan belajar siswa di MA AL IBROHIMY kota GALIS
I. Sistematika Pembahasan
Untuk lebih memudahkan para pembaca dalam memahami isi daripada skripsi dan agar supaya penulisannya tersusun secara sistematis sehingga dapat memenuhi kriteria penulisan ilmiah, maka penulis menganggap perlu untuk membuat sistematika pembahasan adapun sistematika pembahasan adalah :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memuat tentang sub bahasan yaitu: latar belakang masalah, rumusan masalah, hipotesis, tujuan dan kegunaan penelitian,definisi operasional, alasan memilih judul, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II LANDASAN TEORI
yang didalamnya terdiri dari: A) tinjauan tentang hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani. 1) pengertian hukuman, bentuk-bentuk hukuman, syarat-syarat hukuman dan dampak-dampak hukuman;2) pengertian bimbingan jasmani, tujuan bimbingan jasmani; 3) hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani. B) Tinjauan tentang kedisiplinan belajar, 1) pengertian kedisiplinan, bentuk-bentuk kedisiplinan dasar dan tujuan disiplin, indikator disiplin; 2) pengertian belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar;3) kedisiplinan belajar. C) pengaruh hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan belajar siswa.
BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN
yang terdiri bagian A. Yaitu gambaran umum obyek penelitian, yang terdiri dari sejarah singkat MA AL IBROHIMY kota GALIS, letak geografis MA AL IBROHIMY kota GALIS, struktur organisasi, keadaan guru dan karyawan, keadaan siswa, keadaan sarana dan prasarana serta struktur organisasi. Bagian B, merupakan penyajian analisa data yang terdiri data tentang penerapan hukuman dalam bentuk bimbingan, data tentang kedisiplinan siswa dan pengaruh hukuman dalam bentuk bimbingan jasmani terhadap kedisiplinan belajar siswa, Bagian C. Analisis data.
BAB IV PENUTUP
yang terdiri dari simpulan dan Saran.
Demikian sistematika pembahasan yang digunakan akan menjadi alur penulisan skripsi ini sesuai dengan urutan-urutannya

Poskan Komentar

 
Top